Oleh: Gusti Ngofangare
Opo Anwar adalah anak asal daerah Topo yang kini mampu berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh terkemuka di Maluku Utara. Dahulu, Topo hanyalah sebuah wilayah kecil yang jarang dikenal. Namun, nama tempat itu kini mulai diperbincangkan berkat jejak perjuangan seorang anak penjual kue.
Di kampung itulah ia lahir dan tumbuh menjadi anak yatim sejak usia tiga tahun. Kepergian ayahnya meninggalkan ibu dan empat orang anak yang harus berjuang mempertahankan hidup. Opo Anwar adalah salah satunya. Bersama ibu dan ketiga saudaranya, ia besar di sebuah rumah sederhana yang sederhana namun penuh kehangatan.
Untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup, sejak usia dini Opo sudah membantu ibunya berjualan kue. Ia berkeliling dari rumah ke rumah, menyusuri lorong-lorong Topo hingga ke halaman warga, menawarkan kue buatan ibunya. Di sanalah ia mempelajari pelajaran hidup yang paling berharga: belajar bersabar menghadapi pelanggan yang rewel, mendengarkan sebelum berbicara, serta menghargai setiap orang tanpa memandang status ekonomi mereka. Semua itu ia lakukan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi meringankan beban ibu dan saudara-saudaranya di rumah.
Perjalanan pendidikan Opo juga dimulai dari lingkungan yang sederhana. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Topo, dilanjutkan di SMP Negeri 6 Tikep, dan SMA Muhammadiyah 3 Tidore. Sejak bersekolah, ia memiliki kebiasaan: lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Setelah lulus, ia melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Di perguruan tinggi inilah ia aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui organisasi ini, ia mengasah kemampuan berpikir kritis, berdialog di tengah perbedaan, dan memegang teguh amanah. Nilai yang sama ia bawa dari rumahnya di Topo ke ruang diskusi HMI: hadir, mendengarkan, dan menyatukan.
Semasa kecil, Opo Anwar harus melewati masa-masa sulit dan serba kekurangan. Ia sempat berpikir bahwa melanjutkan pendidikan hanyalah angan-angan belaka. Namun, takdir Tuhan membawanya sampai pada titik ini. Karena pernah merasakan pahitnya kehidupan, ia tidak pernah melupakan asal-usulnya. Dari pengalaman itulah ia belajar untuk menghargai sesama manusia. Ia tahu bagaimana rasanya dipandang sebelah mata, merasakan lapar, dan hampir putus asa. Oleh karena itu, ketika kini ia duduk di ruang pengambilan keputusan, ia tidak pernah memandang orang lain dari atas. Ia memandang setiap orang setara, karena ia pernah berada di posisi yang paling sulit.
Siapa sangka, perjuangan menjajakan kue di Topo membawanya melangkah lebih jauh. Dari pekerjaan sederhana menuju ruang publik, dari jalanan kampung menuju panggung politik Maluku Utara, Opo menerapkan apa yang disebutnya sebagai “seni menyatukan perbedaan”. Maluku Utara adalah wilayah yang kaya akan keberagaman pulau, bahasa, adat istiadat, dan cara pandang. Ketika banyak orang lain meninggikan suara agar didengar, ia justru berbicara dengan nada lembut agar orang lain mau mendekat. Ketika banyak orang sibuk mencari siapa yang bersalah, ia justru berusaha menemukan persamaan. Kearifan itu tidak hanya didapat dari bangku kuliah, melainkan ditempa melalui kerasnya hidup sebagai anak yatim penjual kue, serta didikan di sekolah dan organisasi. Dari setiap kue yang dijual untuk ibu dan saudara, ia memahami satu hal: selera orang memang berbeda-beda, namun setiap orang berhak dihargai. Opo Anwar benar-benar seorang pemersatu yang tumbuh dari akar masyarakat.
Kepercayaan yang diberikan kepada Opo bukan hanya karena gagasannya, melainkan karena karakternya. Ia dikenal teguh memegang komitmen, menjaga kepercayaan, dan memikul amanah dengan baik. Sejak kecil ia telah memahami bahwa titipan dari ibu adalah sebuah amanah. Kue yang dijual bukan sekadar barang dagangan, melainkan tanggung jawab bagi seluruh keluarga. Janji sekecil apa pun selalu ia tepati. Kepercayaan orang lain ia jaga sebagaimana ia menjaga nama baik ibunya. Itulah sebabnya, ketika ia memasuki ruang pengambilan keputusan, orang lain tidak ragu untuk bekerja sama dengannya. Mereka yakin: apa yang diucapkan Opo akan ia penuhi, dan apa yang diamanahkan akan ia laksanakan. Komitmen inilah yang membuat jalan tengah yang ia tawarkan bukan sekadar omongan, melainkan sesuatu yang dapat dipegang bersama.
Kisah Opo selaras dengan pesan Murtadha Muthahhari: “Manusia besar tidak lahir dari istana, melainkan lahir dari kesulitan, kemudian memilih jalan amanah.” Opo memilih jalan itu. Dari lorong-lorong Topo, ia belajar bahwa titipan ibu adalah amanah, dan kue yang dijual adalah tanggung jawab. Dari memegang amanah yang kecil itulah, ia akhirnya dipercaya memikul tanggung jawab yang besar: menyatukan masyarakat Maluku Utara.
Kemampuannya menyatukan perbedaan tumbuh dari tiga kebiasaan sederhana. Ia hadir sebelum perselisihan membesar, tidak menunggu undangan resmi, melainkan mendatangi warga di teras rumah, warung kopi, dan dalam obrolan santai. Ia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, karena pernah merasakan sakitnya tidak dihargai, sehingga ia memastikan setiap orang merasa didengar. Dan ia menolak cara berpikir “menang sendiri”, karena baginya kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika semua pihak dapat pulang dengan perasaan dihargai. Nilai-nilai ini ia warisi dari ibunya yang membesarkan empat orang anak sendirian: bekerja dengan jujur, tidak memecah belah, dan selalu memberi ruang bagi orang lain. Nilai sederhana dari kampung itu ternyata jauh lebih berharga daripada debat politik yang rumit sekalipun.
Pengalaman menopang ibu dan saudara sejak usia muda membuat Opo memahami makna perjuangan. Kesedihan kehilangan ayah mengajarkannya empati. Kelelahan berjualan kue mengajarkannya tanggung jawab. Pengalaman dipandang rendah mengajarkannya kerendahan hati. Dari berbagai pengalaman hidup itulah, ia tumbuh menjadi sosok yang mampu menyatukan Maluku Utara. Ia membuktikan bahwa perbedaan pilihan tidak harus merusak persaudaraan, dan perbedaan pendapat tidak harus melahirkan permusuhan.
Topo melahirkan sosok yang menginspirasi karena Opo berani melawan arus zaman. Di tengah gempuran media sosial yang seringkali memecah belah, ia memilih prinsip kemanusiaan. Ia tidak memihak kelompok tertentu, melainkan memihak masa depan. Dari kampung halamannya, dari kue buatan ibunya, ia melangkah ke panggung politik Maluku Utara dan membuktikan: asal-usul bukanlah penghalang. Seorang anak yatim, mantan penjual kue, lulusan sekolah negeri dan Muhammadiyah, kader organisasi, serta sosok yang menjaga amanah dan komitmen, berhak berdiri sejajar, berbicara dengan wibawa, dan didengar oleh banyak orang.
Kini, Opo Anwar tumbuh menjadi sosok muda yang dewasa dalam berpikir dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Kedewasaan itu bukanlah warisan, melainkan hasil dari proses panjang: dari lorong-lorong Topo, bangku sekolah, ruang organisasi, hingga panggung politik. Ia membuktikan bahwa kemandirian lahir dari tanggung jawab yang dipelihara sejak dini.
Bagi generasi muda Maluku Utara, janganlah merasa rendah diri karena lahir di kampung, karena menjadi yatim piatu, atau karena harus membantu ibu dan saudara sejak kecil. Bersekolahlah di mana saja, berorganisasilah dengan sungguh-sungguh, dan jagalah komitmen, kepercayaan, serta amanah. Seringkali, dari keadaan yang paling sulit lahirlah orang yang paling memahami arti persatuan. Bagi Maluku Utara, seorang pemimpin tidak dinilai dari asal-usulnya, melainkan dari cara ia menyikapi perbedaan dan menepati janji. Jika perjuangan berjualan kue dari Topo dapat mengantarkan Opo ke panggung politik, maka dari setiap kampung dan pulau di Maluku Utara, akan lahir lebih banyak lagi sosok-sosok pemersatu yang berkarakter. Maluku Utara berkembang bukan karena semua orang sama, melainkan karena semua bersedia menjaga persatuan ini demi ibu pertiwi, anak-anak, saudara, dan seluruh masyarakat.
“Kami yang mengenal dekat sosok Opo, merasa bangga atas pencapaiannya.”












