GEBE – Perekonomian Pulau Gebe, wilayah terujung di sisi timur Halmahera Tengah, kembali bergerak setelah perusahaan tambang yang lama menjadi sandaran warga beroperasi kembali.
Perubahan itu tampak jelas di pasar, warung harian, hingga layanan keuangan kecil yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, geliat ini mulai dirasakan hampir seluruh warga, dari pedagang sayur hingga tenaga kerja lokal.
Di pasar Gebe, suasana yang sebelumnya sering lengang kini berubah menjadi lebih hidup. Ibu Fatmuna, pedagang sayur yang setiap hari berhadapan dengan dinamika pasar, mengaku pendapatannya meningkat signifikan sejak aktivitas tambang kembali berjalan.
“Sekarang jauh lebih ramai. Istri karyawan tambang banyak yang turun belanja, terutama di akhir pekan atau pas gajian,” tuturnya.
Meski demikian, ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatir jika aktivitas tambang kembali terhenti. “Kalau ditutup lalu torang mo karja apa? Mo karja baku haga saja,” cetusnya.
Perubahan yang sama dirasakan Abd Samad, pedagang sayur lainnya. Menurutnya, arus pembeli meningkat jauh dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Pembeli jelas bertambah. Alhamdulillah, pendapatan kami ikut terdongkrak,” katanya.
Ia juga menilai rencana PT Smart Marsindo untuk merelokasi SMAN 3 Halteng sebagai langkah yang tepat demi keamanan dan akses pendidikan yang lebih mudah. “Sekolah yang lama itu sudah wajar harus dipindahkan, saya setuju sekali di tempat yang baru itu, karena akses siswa dari semua desa itu dekat,” tegasnya.
Tak hanya pedagang pasar, pengelola layanan keuangan warga turut merasakan dampak positif. Usman, warga Kapaleo yang mengoperasikan layanan Brilink, menyebut meningkatnya perputaran uang tunai dan transaksi digital sangat terasa sejak perusahaan tambang kembali aktif. “Dulu waktu perusahaan belum beroperasi, toko kami ini sepi, beda jauh dengan sekarang,” ungkapnya.
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas betapa beratnya kondisi saat perusahaan berhenti beroperasi selama tiga bulan. “Kemarin perusahaan sempat terhenti 3 bulan, itu kami sangat rasakan dampaknya, sangat sepi,” timpalnya.
Kini, tingginya transaksi memaksanya menambah modal lebih besar. “Usaha Brilink saya juga berjalan dengan baik. Tidak sampai sebulan saya harus siapkan uang tunai seratus juta,” jelasnya.
Ia juga melihat banyak warga lokal yang kini memiliki pendapatan lebih baik. “Banyak tenaga kerja lokal yang kerja di perusahaan, dan ada pedagang sayur disini belum sampai setahun sudah bisa beli mobil,” imbuhnya.
Di sisi lain, para pekerja juga merasakan manfaat yang sama. Muharram Muhtar, tenaga kerja lokal yang sudah setahun bekerja di subkontraktor Smart Marsindo, mengaku kehidupannya menjadi lebih stabil sejak memperoleh pekerjaan tetap di pulau yang akses ekonominya terbatas itu.
Upah yang diterimanya disebut sesuai aturan, sementara suasana kerja dinilai cukup baik dan terstruktur. Namun, ketika perusahaan menghentikan operasi selama kurang lebih tiga bulan, ia ikut terdampak meski gaji tetap dibayarkan. Karena itu, ia sangat berharap aktivitas operasional tidak kembali terhenti. “Kami mohon jangan ditutup, karena dengan adanya perusahaan ini kami sangat terbantu sekali,” pintanya.
Dukungan terhadap kontribusi perusahaan tidak hanya datang dari warga, tetapi juga dari pemerintah kecamatan, dunia pendidikan, hingga pemerintah desa. Camat Pulau Gebe, Usba Kamaraja, menilai kehadiran investasi seperti Smart Marsindo berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
“Kehadiran investasi seperti Smart Marsindo ini penting untuk mendorong PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan membuka lapangan kerja di tingkat kecamatan,” katanya sembari berharap kemitraan antara perusahaan dan pemerintah dapat terus dijaga.
“Harapan kami, perusahaan terus berkomitmen dan bersinergi dengan program-program pembangunan kecamatan agar dampaknya tidak hanya sesaat, tapi berkelanjutan,” harapnya.
Dari sektor pendidikan, Kepala SMAN 3 Halteng, Satrianti, menyampaikan apresiasi atas bantuan berupa 20 unit laptop, empat unit AC untuk aula, dan satu unit bus sekolah. Ia berharap relokasi sekolah dapat segera terealisasi, mengingat lokasi saat ini dinilai tidak layak, jauh dari pemukiman, dan rawan aktivitas tambang. Ia menegaskan bahwa pemindahan lokasi merupakan kebutuhan mendesak demi keselamatan siswa dan menilai komitmen perusahaan jauh lebih baik dibanding perusahaan lain yang pernah beroperasi di wilayah tersebut.
Dukungan serupa datang dari tingkat desa. Kepala Desa Umiyal, Buhari Gasim, menyampaikan terima kasih atas bantuan satu unit long boat fiber berkapasitas 40 penumpang yang dianggap sangat vital bagi mobilitas warganya, mengingat desa tersebut tidak berada pada daratan yang sama dengan Pulau Gebe.
“Saya doakan kebaikan bagi manajemen perusahaan dan berharap bantuan serupa dapat berlanjut karena dinilai tepat sasaran dan sangat membantu kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.












