Ragam  

Belajar Komitmen dan Menjaga Pertemanan dari Sosok Faisal Anwar ‘Opo’: Anak Muda yang Humanis.

Oleh: Hasan Bahta

Dalam dinamika sosial dan politik yang sering kali cair dan penuh perubahan, menemukan sosok yang teguh memegang janji adalah sebuah kelangkaan. Namun, bagi masyarakat Maluku Utara, nama Faisal Anwar atau yang lebih akrab disapa “Opo” menjadi anomali yang menyegarkan. Pemuda kelahiran Tidore ini bukan sekadar aktivis atau penggerak massa; ia adalah representasi nyata dari nilai kesetiaan dan kemanusiaan.

Melalui perjalanannya, Opo memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda tentang bagaimana merawat kepercayaan dan menjaga jejaring pertemanan di tengah badai perubahan. Komitmen Opo tidak dibangun di atas ruang hampa. Ia adalah salah satu orang kepercayaan mendiang Benny Laos. Bagi banyak orang, ketika seorang mentor atau pemimpin berpulang, loyalitas sering kali luntur seiring berjalannya waktu. Namun, hal berbeda terjadi pada Opo.

Bagi Opo, amanah bukan sekadar kontrak kerja atau jabatan, melainkan sebuah ikatan moral yang sukar diputus. Hingga saat ini, ia tetap berdiri tegak mengawal visi pembangunan Maluku Utara yang kini dilanjutkan oleh Sherly Tjoanda (Sherly Laos). Sikap ini membuktikan bahwa komitmen Opo tidak bersifat transaksional, melainkan berakar dari prinsip kemanusiaan (humanis) yang mendalam.

Salah satu kekuatan utama Faisal Anwar adalah kemampuannya merawat hubungan dan pertemanan. Di era digital di mana hubungan sering kali terasa dangkal, Opo justru memilih jalan yang lebih personal. Ia mampu menembus berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan elite politik hingga masyarakat akar rumput di pelosok Maluku Utara.

Merawat pertemanan baginya bukan sekadar saling berkirim pesan, melainkan tentang kehadiran nyata saat dibutuhkan. Inilah yang membuatnya memiliki lingkaran pertemanan (circle) yang solid dan setia. Orang-orang percaya pada Opo karena ia adalah sosok yang satu kata dengan perbuatan. Ketika ia menyatakan dukungan, maka seluruh energinya akan dicurahkan sepenuhnya.

Sebagai anak muda yang terlibat langsung dalam pemenangan pasangan calon Gubernur Sherly-Sarbin, tanggung jawab Opo bukan sekadar memenangkan kontestasi politik. Ia memikul beban moral untuk memastikan bahwa semangat pembangunan yang pernah dicita-citakan tetap berada pada jalurnya.

Opo menyadari bahwa Maluku Utara membutuhkan keberlanjutan. Kepemimpinan Sherly Laos dipandangnya sebagai estafet harapan. Dengan kecerdasan sosial yang dimilikinya, Opo berperan sebagai jembatan komunikasi, menyatukan semangat anak-anak muda Maluku Utara untuk ikut andil dalam mengawal pemerintahan.

Ada tiga hal utama yang bisa kita petik dari sosok Opo:

Pertama, Keteguhan Hati (Resilience). Meskipun situasi sulit atau penuh tekanan, Opo tetap teguh pada pendiriannya. Ia membuktikan bahwa anak muda tidak boleh mudah “goyang” oleh kepentingan sesaat.

Kedua, Nilai Kemanusiaan di Atas Segalanya. Politik bagi Opo hanyalah alat untuk membantu orang lain. Pendekatannya yang humanis membuat perjuangan terasa lebih hangat dan diterima oleh banyak pihak.

Ketiga, Loyalitas adalah Investasi Terbesar.
Karier dan reputasi Opo yang cemerlang saat ini adalah buah dari kesetiaannya menjaga amanah selama bertahun-tahun.

Faisal Anwar “Opo” adalah bukti nyata bahwa untuk menjadi besar, kita tidak harus menjadi keras atau licik. Dengan menjadi humanis, menjaga komitmen, dan tulus dalam berteman, seorang anak muda dari Tidore mampu memberi dampak besar bagi kemajuan daerahnya.

Komitmen Opo ini selaras dengan apa yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dibantu dengan pengalaman. Namun tidak jujur dan tidak berkomitmen, itu sulit diperbaiki.”

Mari kita jadikan teladan: bahwa dalam hidup, bukan seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa kuat kita menjaga kepercayaan orang-orang yang telah menitipkan harapan kepada kita. Tetaplah mengawal, tetaplah kuat, Opo!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *