Ternate– Keberadaan burung bidadari halmahera (Semioptera wallacei), salah satu jenis cenderawasih yang hanya ditemukan di Maluku Utara, kini semakin terancam. Satwa eksotis yang dikenal karena tarian indah jantannya ini hanya dapat hidup di hutan alami yang belum terganggu, namun aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan pembalakan liar terus menggerus habitat alaminya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Supratman Tabba dan Lis Nurrani di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, burung bidadari halmahera memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi terhadap gangguan lingkungan. Bahkan, burung ini tidak akan muncul di wilayah yang telah terganggu atau rusak. Hal ini menjadikannya indikator penting dalam menilai kualitas ekosistem hutan.
“Bidadari halmahera tidak ditemukan di kawasan yang telah dibuka atau diganggu manusia. Itu sebabnya kehadirannya sangat penting dalam konservasi,” tulis mereka dalam jurnal “Avifauna pada Taman Nasional Aketajawe Lolobata Berdasarkan Tipologi Zona dan Tutupan Lahan”.
Sayangnya, beberapa lokasi penting seperti hutan di Tayawi, Gunung Tanah Putih, dan Binagara Halmahera Timur mulai terfragmentasi akibat pertambangan, pembalakan, dan pembangunan jalan. Kawasan konservasi seperti Resort Buli di Gunung Uni-uni pun mulai menghadapi tekanan serupa.
Burung yang dinamai oleh Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 ini terkenal karena keunikan bulu putih panjangnya yang melengkung dari sayap, serta gerakan menarinya yang anggun. Ia memikat pasangan dengan membuka sayap dan menggetarkan tubuhnya secara ritmis di pagi dan sore hari.
Selain di Aketajawe Lolobata, jenis ini hanya bisa ditemukan di Pulau Bacan dan sebagian wilayah Halmahera. Pola distribusi terbatas ini membuatnya sangat rentan terhadap kerusakan habitat.
Upaya konservasi kini sangat bergantung pada perlindungan hutan primer. Pemerintah daerah dan pengelola taman nasional didorong untuk memperketat pengawasan serta mengedukasi masyarakat sekitar kawasan hutan agar tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak ekosistem.
“Konservasi bidadari halmahera tidak bisa hanya dilakukan di atas kertas. Perlu keterlibatan langsung masyarakat dan penegakan hukum yang kuat,” kata salah satu aktivis lingkungan di Halmahera.
Sebagai satwa endemik, kehilangan bidadari halmahera akan menjadi kehilangan identitas ekologis Maluku Utara. Untuk itu, menjaga kelestarian burung ini berarti menjaga keberlanjutan hutan dan kehidupan makhluk lain di dalamnya.












