HALSEL – Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) telah menyelesaikan penguatan dan rehabilitasi jaringan air bersih di Desa Loleo Jaya, Kecamatan Kasiruta Timur. Langkah ini diambil setelah komponen intake atau bak penangkap air terdampak sedimentasi serta material yang terbawa arus sungai.
Kepala Disperkim Halsel, Ikbal Hi. Mustafa, menjelaskan sistem ini mengambil sumber air langsung dari sungai, dialirkan ke waduk penampungan (reservoir), lalu didistribusikan ke masyarakat. Karena posisinya berada tepat di badan sungai, bagian intake sangat rentan terhadap perubahan debit air serta endapan lumpur, batu, dan material lain yang terbawa arus.
“Air dari sumber ditangkap terlebih dahulu lewat intake, baru disalurkan ke reservoir sebelum digunakan warga. Jadi bagian yang terdampak hanya bak penangkap air di sungai,” ujar Ikbal, Selasa (14/7/2026).
Gangguan muncul setelah pekerjaan utama pembangunan selesai dilakukan. Ikbal menegaskan kondisi ini termasuk keadaan kahar (force majeure) atau faktor alam yang berada di luar kendali teknis pelaksana pekerjaan.
Ia juga memperjelas, bukan keseluruhan bangunan yang rusak. Dari total anggaran pembangunan sebesar Rp1,375 miliar, gangguan hanya terjadi pada komponen intake dengan nilai sekitar Rp34 juta.
“Bukan seluruh pekerjaan yang bermasalah. Hanya bak penangkap dengan nilai sekitar Rp34 juta dari total anggaran Rp1,375 miliar,” tegasnya.
Bersama pihak penyedia jasa, Disperkim segera melakukan peninjauan teknis dan perbaikan. Penanganan difokuskan pada pemulihan fungsi bak penangkap sekaligus pemasangan sistem pengaman baru untuk mengurangi risiko penyumbatan di masa mendatang.
“Penyedia beriktikad baik memperbaiki semuanya. Bak penangkap sudah selesai diperbaiki dan sistem pencegah penyumbatan juga telah terpasang. Seluruh pekerjaan sudah tuntas,” jelas Ikbal.
Kini fungsi pengambilan air baku telah kembali normal dan pelayanan air bersih bagi warga Desa Loleo Jaya berjalan lancar. Ia mengingatkan infrastruktur berbasis sumber air sungai membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan, sehingga perbaikan ini sekaligus menjadi langkah mitigasi agar sistem lebih tangguh menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
“Yang terpenting pelayanan ke masyarakat tetap terjaga. Ini bukan kerusakan parah, semata-mata faktor alam dan kini sudah selesai diperbaiki sepenuhnya,” pungkasnya.












