Berita  

Meluruskan Polemik Bela72, Opo: Sherly Bicara Sebagai Sesama Korban, Bukan Pihak Lain

SOFIFI – Terkait sejumlah narasi yang berkembang soal penyelesaian kasus kecelakaan speedboat Bela72, telah dilakukan pelurusan fakta guna menepis anggapan bahwa Sherly Laos telah membohongi keluarga korban.

Ditegaskan, kehadiran dan pernyataan Sherly dalam pertemuan-pertemuan dengan keluarga korban murni atas dasar statusnya sebagai sesama keluarga korban, karena suaminya juga meninggal dalam peristiwa tersebut.

Kecelakaan speedboat Bela72 menewaskan enam orang dan melukai sembilan orang lainnya. Setelah peristiwa itu, pendekatan dilakukan kepada seluruh keluarga korban. Dari enam keluarga yang ditinggalkan, lima menyatakan kesediaan menyelesaikan perkara melalui jalur keadilan restoratif.

Sementara satu keluarga, yang diwakili Seni Saleh, pada awalnya masih menginginkan proses hukum berjalan. Seni pun telah diberi pemahaman mengenai konsekuensi jika perkara diteruskan ke pengadilan, termasuk kemungkinan pihak yang bertanggung jawab dijatuhi hukuman penjara.

Pertemuan yang berlangsung di sebuah hotel dan dilanjutkan dengan makan malam bukanlah forum resmi, melainkan pertemuan kekeluargaan. Dalam kesempatan itu, masing-masing keluarga menyampaikan kebutuhannya.

Seni menyampaikan sejumlah hal, mulai dari kebutuhan rumah, biaya hidup dan pendidikan anak, bantuan modal usaha, peluang pekerjaan sebagai ASN, hingga bantuan mencari pengacara untuk urusan penjualan rumah di Sula. “Sherly berbicara sebagai korban juga. Suaminya juga meninggal,” ditegaskan untuk meluruskan peran Sherly dalam pertemuan tersebut.

Sebelumnya telah ditawarkan tempat tinggal yang dibangun pihak swasta dengan sistem pembayaran bertahap, yang juga dapat dimanfaatkan untuk usaha. Namun setelah menyatakan kesediaan, Seni kemudian
mengubah sikapnya.

Terkait modal usaha, Seni belum dapat menjelaskan secara rinci jenis usaha yang akan dijalankan ketika ditanya dua kali. Di lain waktu, Seni menyampaikan permintaan bantuan Rp50 juta untuk membeli tanah dan menyatakan tidak butuh bantuan lain, namun hal itu tidak dipenuhi karena berada di luar kesepakatan yang telah dibangun.

Dokumen kesepakatan keadilan restoratif yang telah ditandatangani juga ditegaskan tidak disodorkan secara terburu-buru; Seni memiliki waktu untuk membaca dan memahami isinya. Terkait kondisi anak Seni yang sakit, telah ditawarkan perawatan di Ternate dengan biaya dibantu, namun pada hari yang disepakati Seni datang tanpa membawa anaknya.

Ditegaskan pula tidak ada perlakuan istimewa terhadap keluarga tertentu, semua bantuan yang dibicarakan adalah jawaban atas kebutuhan masing-masing keluarga, dan biaya perjalanan bagi yang hadir pun telah diganti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *