Berita  

Subhan Somola, ASN Visioner Halteng: Tokoh di Balik Sukses Tambak Garam Umiyal, Pulau Gebe

WEDA – Desa Umiyal, Pulau Yoi, Kecamatan Pulau Gebe kini mencatat sejarah emas: resmi berdiri sebagai desa penghasil garam pertama di Maluku Utara. Sebuah lompatan besar bagi wilayah yang selama 45 tahun lebih dikenal dunia semata-mata sebagai ikon industri ekstraktif.

Keberhasilan ini bukan sekadar soal tanah dan air laut, ini adalah kisah panjang perjalanan, ketekunan, dan kehadiran tulus seorang putra daerah yang memilih turun langsung ke akar rumput, selaras dengan semangat kepemimpinan daerah.

Di balik kilauan kristal garam tambak modern binaan Kelompok Demplot Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) ini, berdiri dua sosok kunci yang bersinergi mengukir prestasi: Subhan Somola, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Halmahera Tengah—seorang ASN visioner berdarah Weda-Ternate, serta Kepala Desa Umiyal, Buhari Gasim, yang bertekad membawa wilayahnya bangkit mandiri.

Subhan mendampingi masyarakat sejak gagasan masih berupa mimpi, bekerja bahu-membahu dengan Kades Buhari Gasim hingga panen raya kini menjadi kenyataan manis bagi warga Umiyal.

Gaya kerjanya yang lekat dengan rakyat sangat sejalan dengan pola kepemimpinan Bupati Ikram M. Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil (IMS–ADIL) yang mengutamakan kedekatan, turun langsung ke lapangan, serta menyentuh denyut nadi masyarakat tanpa sekat birokrasi. Program IMS–ADIL secara konsisten mendorong kolaborasi lintas sektor, meruntuhkan tembok sekat antar-instansi, dan menyatukan kekuatan pemerintah bersama elemen masyarakat demi tujuan mulia: mewujudkan Halmahera Tengah yang Maju dan Sejahtera.

Muna Muhammad mewakili Himpunan Pelajar Mahasiswa (HPM) Pulau Gebe menegaskan, keberhasilan ini tak lepas dari peran sentral Subhan Somola—tokoh muda luar biasa, PNS pemberdaya penuh dedikasi dari Pemkab Halmahera Tengah.

Beliau terus mendampingi Kepala Desa Umiyal, Buhari Gasim, beserta masyarakat Pulau Yoi mewujudkan gagasan dan terobosan baru.

“Bang Subhan patut acungan jempol dan penghargaan setinggi-tingginya. Ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan pendamping yang tak kenal lelah menemani warga berpikir dan bergerak maju,” ujar Muna.

Pujian mendalam juga disampaikan Naryo, pemuda asal Pulau Yoi. Menurutnya, kehadiran Subhan yang akrab disapa Bang Ubhan mengubah pandangan masyarakat terhadap sosok PNS.

“Tanpa beliau, kami mungkin tak terpikir bisa membuat garam modern dan berkualitas seperti sekarang. Beliau berbeda dari PNS pada umumnya: kerjanya nyata di lapangan, sangat terbuka, dan selalu memotivasi kami belajar serta mengembangkan potensi lokal,” ungkap Naryo kagum.

Jejak Langkah Panjang Pengabdian
Perjalanan Subhan Somola dalam mengabdi pada masyarakat bukanlah jalan singkat. Lebih dari 15 tahun lalu, ia melangkah masuk ke dunia birokrasi dengan satu tekad: menjadi ASN yang hadir, bukan sekadar ada. Di setiap penugasan sebelumnya, prinsipnya tak pernah berubah—lebih banyak waktu dihabiskan di lapangan daripada di ruang ber-AC.

Ke mana pun ditempatkan, ia selalu merangkul masyarakat tanpa sekat, mendengarkan keluh kesah, dan mencari solusi nyata tepat selaras dengan teladan pimpinan daerah yang mengutamakan kehadiran riil di tengah rakyat. Pria ayah dua anak ini tak pernah kenal lelah berjuang demi kepentingan warga.

Ketekunan ini membawa nama baiknya hingga diusung Pemkab masuk nominasi bergengsi DPD Award 2025, pengakuan atas integritas dan dedikasi yang tak tergoyahkan. Kini, sebagai Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, semangat kolaborasi itu tetap menyala: melestarikan bahasa daerah Sawai-Weda yang terancam punah, mengangkat seni budaya, hingga menggerakkan ekonomi desa bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemimpin desa setempat.

Umiyal: Titik Temu Mimpi dan Kerja Nyata
Lebih dari sekadar lokasi sukses, Desa Umiyal di bawah pimpinan Buhari Gasim kini menjadi bukti hidup potensi desa pesisir yang terpendam. Perjalanan Subhan ke pulau-pulau terpencil tak terhitung jumlahnya, menyeberang laut, menembus panas dan hujan semata-mata ingin membuktikan bahwa wilayah yang lama dianggap tertinggal bisa bangkit berkat sinergi semua pihak. Bersama Kades Buhari, warga tidak hanya diajarkan teknik membuat garam, tapi dibangunkan kepercayaan diri memanfaatkan kekayaan alam sendiri secara berkelanjutan.

Menggunakan teknologi terpal geomembrane dan atap pelindung lewat program TEKAD, tambak ini mengubah air laut jernih Pulau Yoi menjadi produk garam higienis bernilai jual tinggi—meninggalkan cara kuno yang boros kayu bakar. Hasil panen perdana tembus lebih dari 500 kg dan terus meningkat.

Tak Hanya Garam, Jejak di Setiap Sudut
Langkah kaki Subhan tak berhenti di tambak garam. Ia berkelana ke pelosok lain: memajukan pengemasan sagu lempeng khas Umiyal, membangun wisata Kolam Pemandian Wafasyoi di Sanafi, merancang pesona Pantai Bintangor, serta berbagi ilmu tanpa pamrih ke desa-desa se-Halmahera Tengah. Gaya kerjanya tetap sama: dekat, terbuka, menjadi mitra bagi pengrajin, dan pemuda, mencerminkan jiwa kepemimpinan IMS–ADIL yang membumi dan berorientasi pada persatuan.

Visi yang ditanamkan sederhana namun kuat: desa harus berdaya, tidak sekadar menunggu bantuan, melainkan mengolah potensi sendiri menjadi sumber kehidupan. Di Umiyal, setiap butir garam adalah bukti tekad itu.

Subhan Somola adalah bukti nyata bahwa birokrasi yang jujur, cerdas, dan berhati rakyat mampu mengubah nasib daerah yang lama terabaikan. Ia tidak hanya membawa program, tapi menanamkan semangat percaya diri dan inovasi di setiap jejak perjalanannya.

Bagi warga Desa Umiyal di bawah pimpinan Buhari Gasim dan seluruh Pulau Yoi, kehadirannya adalah anugerah yang tak ternilai. “Terima kasih Bang Ubhan sudah berkali-kali meluangkan waktu datang ke pulau kami yang jauh ini, berbagi ilmu tanpa pamrih,” ucap Naryo mewakili harapan warga.

“Semoga beliau tetap sehat dan terus menginspirasi kami meski kelak memikul tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *