HALSEL – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate mendesak PT PLN (Persero) mengevaluasi dan mencopot Kepala PLN ULP Saketa, Muhammad Munir, menyusul dugaan pencurian BBM bersubsidi jenis solar yang mencapai sekitar 30 ton.
Kepala Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Ternate, Rizky Ramli, menyampaikan penanganan kasus di tingkat Polsek dinilai berjalan sangat lamban. Ia meminta Polda Maluku Utara turun tangan mengambil alih atau melakukan supervisi penyidikan.
“Kami mempertanyakan kenapa kasus ini begitu lamban ditangani. Polsek punya kewenangan masuk, periksa, amankan barang bukti, dan telusuri alurnya. Mustahil tidak terungkap jika ditangani serius,” tegas Rizky.
Penyelidikan ditekankan tak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Harus dibongkar bagaimana BBM keluar dari lingkungan PLN, siapa punya akses, tahu, serta ke mana disalurkan—termasuk menelusuri pembeli dan penampungnya. Pengawasan internal pun dipertanyakan, sulit membayangkan penyelewengan besar terjadi tanpa celah pengawasan.
“Jika puluhan ton, harus jelas caranya keluar. Kepala ULP harus jujur, jangan ditutupi—negara dan masyarakat yang dirugikan,” tambahnya.
HMI juga mendesak audit menyeluruh PLN terkait penerimaan, simpanan, hingga distribusi BBM di ULP Saketa.
Tindakan tegas termasuk pencopotan kepala unit diminta jika terbukti ada kelalaian. Organisasi ini menegaskan akan terus mengawal kasus agar seluruh rantai dugaan penyimpangan, baik internal maupun eksternal, terungkap tuntas.













