HALSEL – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) memperkuat langkah koordinasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit, sekaligus mendorong percepatan eliminasi kusta menuju target 2030 serta terwujudnya sanitasi layak bagi seluruh masyarakat.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi, Advokasi dan Sosialisasi dalam rangka Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang digelar di Aula Penginapan Kie Besi, Labuha, Rabu (9/9/2026). Kegiatan berlangsung selama dua hari, 9–10 September 2026, diikuti kepala puskesmas, pengelola program kusta, pengelola program Penyakit Tidak Menular (PTM), serta pengelola kesehatan lingkungan se-Kabupaten Halmahera Selatan.

Kepala Dinkes Halsel, Asia Hasyim, dalam sambutannya menekankan pentingnya tindak lanjut hasil pemeriksaan kesehatan masyarakat, khususnya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Ia mengungkapkan, dari 102.234 peserta CKG di Halsel pada tahun 2026, sebanyak 81.089 orang atau 79,3 persen membutuhkan tatalaksana. Namun hingga saat ini baru 2.352 peserta atau sekitar 2,9 persen yang telah mendapatkan penanganan lanjutan.
“Cek Kesehatan Gratis tidak boleh berhenti hanya pada proses pemeriksaan dan pencatatan data. Tapi harus ditindaklanjuti dengan tatalaksana,” tegasnya.
Asia meminta hasil CKG dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh pengelola program, baik penyakit menular, PTM maupun program kesehatan lainnya, sehingga masyarakat yang ditemukan memiliki faktor risiko atau masalah kesehatan dapat segera memperoleh penanganan.
“Cegah lebih awal, temukan lebih dini, kendalikan sebelum terjadi komplikasi,” ujarnya.
Dinkes Halsel juga mendorong percepatan eliminasi kusta menuju target tahun 2030. Strategi utama yang perlu diperkuat meliputi penemuan kasus secara aktif, pengobatan sedini mungkin, penghapusan stigma, pemberian obat pencegahan atau kemoprofilaksis, serta kolaborasi lintas sektor.
“Berdasarkan capaian indikator kinerja program kusta Kabupaten Halsel tahun 2025, proporsi kasus kusta baru tanpa disabilitas atau cacat tercatat 100 persen. Sementara persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan mencapai 75 persen, sedangkan proporsi anak dari kasus kusta baru sebesar 22 persen,” ungkapnya.
Di sisi lain, persoalan kesehatan lingkungan juga menjadi perhatian utama. Asia menyebut akses sanitasi yang belum layak, perilaku buang air besar sembarangan (BABS), keterbatasan akses air minum aman, serta pengelolaan sampah dan limbah masih menjadi tantangan yang harus ditangani bersama.
Oleh karena itu, Dinkes Halsel mendorong percepatan penerapan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yakni menghentikan BABS, membiasakan cuci tangan pakai sabun, mengelola air minum dan makanan rumah tangga, mengamankan sampah rumah tangga, serta mengamankan limbah cair rumah tangga.
“Tujuan akhirnya adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri, sehat dan terbebas dari penyakit berbasis lingkungan,” kata Asia.
Ia berharap rapat koordinasi tersebut tidak hanya menjadi forum sosialisasi, tetapi menghasilkan langkah konkret dan memperkuat sinergi antara Dinkes, puskesmas, pengelola program, pemerintah desa, serta lintas sektor dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Halsel.














