Berita  

Kolam Pengendapan Hingga Festival Harmoni Obi, Ini Upaya Jaga Lingkungan dan Penghidupan Nelayan

HALSEL – Bagi masyarakat Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber penghidupan yang dijaga dan diwarisi dari generasi ke generasi. Di tengah berjalannya aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting untuk mengendalikan dampak operasional sekaligus memperhatikan kondisi pesisir tempat masyarakat menggantungkan kehidupannya.

Air limpasan dari area tambang berpotensi membawa sedimen ketika hujan turun. Untuk mengendalikannya, Harita Nickel mengoperasikan 52 kolam pengendapan, terdiri atas 35 kolam di wilayah PT Trimegah Bangun Persada (TBP) dan 17 kolam di PT Gane Permai Sentosa (GPS).

Salah satu fasilitas utamanya adalah kolam pengendapan Tuguraci 2, dengan luas sekitar 43 hektar dan kapasitas tampung 1,2 juta meter kubik, yang berfungsi menampung air limpasan untuk membantu mengendapkan partikel sedimen sebelum menjalani tahapan pengelolaan berikutnya.

Pemantauan kualitas air juga dilakukan melalui Sistem Pemantauan Air Limbah Secara Terus-Menerus dan Dalam Jaringan (SPARING), yang mengirimkan data parameter tertentu, termasuk pH dan total padatan tersuspensi (TSS), kepada Kementerian Lingkungan Hidup. Hasil pemantauan ini menjadi dasar evaluasi pengelolaan air, yang disesuaikan dengan perubahan kondisi hujan, debit limpasan, dan akumulasi sedimen di lapangan.

Selain pengelolaan air, perhatian juga diberikan pada kawasan pesisir Kawasi. Dinamika gelombang dan pergerakan sedimen di muara dapat memengaruhi abrasi, pendangkalan, serta akses perahu nelayan. Pembangunan dan penyempurnaan pemecah gelombang atau breakwater terus dilakukan untuk meredam energi gelombang yang mencapai pantai, sementara pemantauan rutin tetap berjalan untuk memastikan infrastruktur berfungsi sesuai kebutuhan.

Bagi nelayan setempat, kondisi perairan berkaitan langsung dengan hasil tangkapan. Ibrahim, Ketua Kelompok Nelayan Soligi Bersatu, menyebutkan ikan masih banyak ditemukan di perairan Obi, meskipun nelayan juga menghadapi tantangan persaingan kapal besar dan tingginya biaya operasional.

Harita Nickel pun turut mendukung keberlanjutan usaha nelayan melalui penyediaan perlengkapan melaut, pembangunan sekretariat kelompok, pembuatan kapal penampung ikan berbahan fiber, serta pendampingan pengurusan legalitas rumpon.

“Harapan kami, ke depan Kelompok Nelayan Soligi Bersatu bisa semakin maju dan menjawab semua kekurangan kami di masa lalu,” ujar Ibrahim.

Keharmonisan antara aktivitas industri, lingkungan, dan masyarakat juga dirayakan melalui Obi Fishing Tournament yang memasuki tahun kelimanya pada Oktober 2026. Kompetisi memancing ini menjadi bagian dari Festival Harmoni Obi yang berlangsung 24–25 Oktober, menyatukan pertunjukan seni budaya dan bazar UMKM setempat.

“Kemajuan industri perlu berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap kearifan lokal. Melalui Festival Harmoni Obi ini, kami ingin mempertemukan masyarakat dan karyawan untuk merayakan potensi laut sekaligus melestarikan budaya,” ujar Irwan Sutrisno, Ketua Panitia Festival Harmoni Obi.

Dari pengendalian air limpasan, pemantauan pesisir, dukungan terhadap nelayan, hingga ruang kebersamaan berbasis budaya dan potensi laut, upaya-upaya ini menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Keberlanjutan membutuhkan pemantauan yang konsisten, penyesuaian yang tepat waktu, serta keterlibatan masyarakat dalam setiap langkah pengelolaan kawasan pesisir Pulau Obi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *