HALSEL – Di tengah catatan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang tercatat rutin masuk ke SPBU Kompak di Desa Waringin, Kecamatan Obi Utara, justru sejumlah nelayan mengaku kesulitan memperoleh kebutuhan bahan bakar untuk melaut. Hal ini memunculkan dugaan penyimpangan penyaluran yang tidak tepat sasaran.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, SPBU tersebut rutin menerima pengiriman setiap dua minggu sekali, mencakup sekitar 5 ton Biosolar, 20 ton Pertalite, dan 5 ton Pertamax. Namun kenyataannya, nelayan kerap kecewa saat datang mengisi bahan bakar.
“Sering kami datang dibilang stok habis, tapi di luar masih ada yang menjual BBM dalam jumlah banyak,” ungkap salah satu nelayan yang meminta identitasnya dirahasiakan. Warga menduga alokasi subsidi lebih banyak disalurkan kepada pedagang eceran dibandingkan kepada nelayan yang memang berhak menerimanya.
Masyarakat pun meminta PT Pertamina Patra Niaga, BPH Migas, serta aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan penyaluran berjalan sesuai aturan dan tepat sasaran.
Saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026), pemilik SPBU Kompak, Sarman, memberikan penjelasan berbeda. Ia menyatakan alokasi solar saat ini hanya 5 kiloliter per bulan, dan pihaknya sudah membatasi pembelian maksimal 50 liter per orang.
“Kemarin pengiriman solar yang masuk sudah kami layani untuk sekitar 30 nelayan. Kami berusaha maksimal melayani nelayan dan masyarakat umum,” ujar Sarman.
Ia menambahkan untuk jenis Pertalite saat ini pelayanan sudah kembali normal. “Kemarin sempat terlambat karena keterlambatan kapal tanker, tapi sekarang stok sudah aman,” pungkasnya.










